Gambar: Suasana RAT Tahun 2018 Koperasi YILA CAHAYA ABADI. (Doc. pribadi)
YAHUKIMO - Memulai usaha dengan modal sendiri (swadaya) oleh pribadi (personal) itu biasa. Tapi memulai secara kelompok yang rata-rata penghasilan nihil (0%) itu hal yang rumit dalam dunia usaha.
Dengan modal semangat yang tinggi dari 55 anggota untuk memulai usaha mendorong kami mendirikan Koperasi YILA CAHAYA ABADI yang disingkat YC-ABADI. Usaha itu harus didorong oleh niat atau keinginan dan bukan oleh modal uang. Banyak orang diantara kita yang sedang menunggu modal usaha. Sementara dilain sisi tantangan ekonomi global perlahan merampat.
Selain modal semangat, hal utama yang harus terbaca baik oleh pemula pengusaha adalah masalah yang kemudian ditangkap secara positif sebagai sebuah peluang. Banyak diantara kita yang suka mencelah akan kemiskinan ekonomi, mempersoalkan penguasaan aspek ekonomi oleh orang non Papua, kehidupan yang menjadi komoditas, persaingan kompetisi dunia usaha dan lain-lain. Pada hal, sebenarnya permasalahan itu adalah pengaruh lingkungan eksternal yang mendorong manusia untuk berpikir positif dan memulai untuk mengatasi.
Kehidupan orang Papua hari ini terkenal luas dengan pola hidup konsumtif. Sebenarnya pola hidup konsumtif itu sah-sah saja. Tapi tidak relevan pada Papua hari ini. Papua hari ini, perkembangan segala aspek memaksa penghuni Pulau yang kaya akan ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA) ini untuk menjadi masyarakat produktif dari orientasi proaktif.
Terbiasa hidup sebagai masyarakat konsumtif terkadang mudah menyalahkan siapa saja. Tanpa menyadari dimana letak kesalahannya. Sifat asli masyarakat Papua adalah suka memberi dan bukan suka menerima. Kini perlahan sifat asli masyarakat asli perlahan berputar 90°.
(Back to the Laptop) Semangat dari latar belakang (55 anggota) yang berbeda itu mendorong kami memulai secara swadaya. Sudah 1 setengah tahun berjalan kami menjalankan usaha melalui Koperasi YILA CAHAYA ABADI. Banyak suka dan duka, keluh-kesah dihadapi. Namun, kata 'Swadaya' menjadi amunisi baru selalu dalam berpikir dan berjuang menjalankan usaha ditengah carut-marutnya kondisi ekonomi yang tidak stabil di daerah.
SWADAYA bagi kami adalah bukan sebuah kata yang biasa. Melainkan sebuah kata penyemangat dalam menggerakan nyawa berwirausaha. Kata 'Swadaya' selain penyemangat, merupakan modal utama dalam mengeksiskan gerakan usaha. Tantangan negatif kian deras dari internal maupun eksternal. Namun bukan itu yang menggerakan kami berjalan. Melainkan semangat kami.
Pada suatu saat, saya pimpin rapat pengurus koperasi YILA CAHAYA ABADI. Kemuadian salah satu anggota berpendapat seperti ini: "Kita memulai dari Tahun 2018. Sekarang sudah masuk 2019. Usaha kita belum berkembang. Diluaran sana menjadi bahan tertawaan orang lain. Ketika melihat kondisi kita ini. Kira-kira pengurus punya rencana seperti apa?". Saya terdiam sejenak lalu menjawab, kataku: "Toko Cahaya Yahukimo itu berdiri seperti yang kita lihat hari ini. Itu tidak langsung terjadi. Tapi mereka memulai dari sebuah upaya yang kecil. Jadi JANGAN TAKUT. Pasti kami akan bangkit". Mendengar cerita itu kami pengurus dan anggota lain menganggap itu biasa saja. Justru mereka memotivasi untuk kami terus konsisten dan bekerja keras. Bisa saja mereka sudah maju dari kita atau mungkin mereka belum mulai. Andaikan mereka ada di posisi kita mungkin juga akan merasakannya.
Semakin kokoh dan semakin terarah, swadaya menggerakan kami bermimpi dan melihat dunia secara leluasa. Tanpa ada paksaan, tanpa ada perintah dan tanpa ada tagihan. Swadaya memberikan kami ruang untuk berpikir, ruang untuk berkompetisi, ruang untuk berpikir positif (The Positive Thinking), dan memberikan ruang untuk berpikir produktif, inovatif dan terampil dalam berkarya.
Banyak dari kita yang mengalah dalam melihat peluang. Disaat-saat tertentu kami pun mengalah. Namun, orientasi pikiran berusaha tidak didorong dengan sejuta uang. Tapi dengan gerakan swadaya dan semangat yang tinggi.
Semua dimensi kehidupan manusia hari ini sudah dikuasai oleh finansial. Kehidupan manusia tidak lagi menjadi hak, melainkan komoditas. Ruang-ruang gerak manusia sudah tidak lagi menjadi zona nyaman. Karena sudah dikendalikan oleh finansial. Dalam kondisi itulah, pemikiran dan langkah kami tidak disandera oleh pengaruh luar. Justru semangat kami mematahkan kekuatan kemiskinan melangkah.
Musuh terbesar hari ini adalah Kemiskinan Bergagasan. Siapa yang bisa mengarungi kehidupan yang keras ini, adalah dia yang kaya akan gagasan-gagasan baru. Disaat kita miskin gagasan, saat itu pulalah kita bersiap menerima kekalahan.
Semangat harus tumbuh dan berkembang dari dalam hati. Karena semangat itulah akan mendorong kami untuk berlayar dalam dunia usaha. Kalah modal itu hal biasa. Tapi jangan kita kalah ilmu, gagasan dan konsep.
Demikian singkat cerita yang bisa kami ulas dari semangat memulai usaha secara Swadaya.
Salam berpikir!!
Jalur Gaza, 30 Juni 2019
Penulis: Panuel Maling (Ketua YC-ABADI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar